Untung atau rugi dimanakah posisi kita
Muhasabah Jilid 3 (Instrospeksi di penghujung tahun 2011 M)
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته
Ikhwani rokhimakumulloh,….
Sebagaimana Rasulullah Saw, sabdakan : “ Tentang keberadaan untung dan ruginya seseorang tergantung bagaimana ia dapat memanfaatkan waktunya dengan sebaik-baiknya “
……………….. من كا ن يومه خير من امسه فهو رابح
“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia tergolong orang yang beruntung, barang siapa yang harinya sama dengan hari kemarin, maka ia tergolong orang yang rugi, barang siapa yang harinya lebih buruk dari hari kemarin, maka dialah tergolong orang yang celaka”
Ikhwani rakhimakumullah,
Ada baiknya coba kita belajar dari orang-orang shaleh terdahulu yang telah mengambil hikmah dari perjalanan hidup Rasulullah Saw.
Al Muhasibi adalah seorang Ulama Fiqih dan Hadits dari Basroh (Irak), adapun nama lengkapnya adalah Abu Abdillah Al Haris bin Asad Al Basri Al BAgdadi al Muhasibi, beliau memilki banyak murid untuk menuntut ilmu Agama dan pada suatu ketika ditanya oleh salah seorang murid :
• Dengan apa jiwa itu akan dihisab ?, Al Muhasibi menjawab, jiwa itu akan dihisab dengan akal!,
• Al Muhasibi ditanya lagi : Dari mana datangnya hisab itu ?, kemudian dijawabnya : Hisab itu datang dari adanya rasa takut (khauf), hal-hal yang merugikan dan adanya keinginan untuk menambah keuntungan.
Ikhwani rakhimakumullah,
Menurut Al Muhasibi, Hisab (muhasabah) dapat mewariskan nilai tambah dalam berpikir (basiroh), menambah kecerdikan dan mendidik untuk mengambil keputusan yang lebih cepat, memperluas pengetahuan, semua itu didasar atas kemampuan hati untuk mengontrolnya.
• Al Muhasibi ditanya lagi, dari manakah sumber keterlambatan akal dan hati untuk menghisab jiwa ?, dijawabnya : keterlambatan itu disebabkan oleh HATI.
Hati sangat didominasi kekuatan hawa nafsu dan syahwat yang kemudian menguasai akal, ilmu, argumentasi dan tindakan kita.
• Al Muhasibi juga ditanya lagi, Dari mana datangnya kebenaran itu ? beliau menjawabnya : Kebenaran itu datangnya dari pengetahuan kita bahwa Alloh Swt Maha Mendengar dan Maha Melihat.
• Ditanya tentang syukur!, dijawabnya bahwa syukur itu adanya kesadaran seseorang bahwa nikmat itu hanya dating dari Alloh Swt.
• Ditanya juga tentang Sabar!, dijawabnya : Sabar adalah kesanggupan jiwa untuk menahan segala penderitaan dan mengerjakan hal-hal yang diperintahkan.
Ikhwani rakhimakumullah,
Seseorang dapat mencapai tingkat ridho kepada Alloh Swt, bila hatinya mengetahui bahwa Alloh Swt Maha Adil dalam keputusannya. Apa yang dipilih oleh Alloh Swt bagi orang itu adalah lebih baik dari pada ia memilihnya sendiri.
Ada baiknya kita coba renungkan pandangan Al Muhasibi (Bagdad) : Bila manusia ingin melakukan pengawasan dirinya, maka ia harus melakukan tiga hal yaitu antara lain :
1. Al Khauf, yaitu Takut/Taqwa kepada Alloh Swt.
Orang yang takut kepada Alloh Swt, yaitu orang yang senantiasa merasa diawasi aktifitasnya olehAlloh Swt.
2. Istihya lillah, yaitu malu kepada Alloh Swt.
Orang yang malu ialah orang yang senantiasa karena merasa memilki banyak kekurangan amal ibadahnya dihadapan/di mata Alloh Swt, sehingga ia berusaha terus untuk menambah segala kekurangan-kekurangannya.
3. Hubb Alloh yaitu Mencintai Alloh Swt sekaligus mencintai Rasul-rasulnya yang telah membawa risalahnya yaitu Dinnul Islam, dengan segala syariatnya.
Orang yang telah merasa segala aktifitasnya dan kemurahan hatinya diawasi oleh Alloh dan mencintai Alloh berarti Taat kepada Alloh dan taat kepada Rasulnya dengan berusaha sekuat tenaga menegakkan syariat-syariatnya.
Cukuplah hanya kepada Alloh kita berserah diri dan hanya kepada Alloh pula, kita memohon ampunan dan pertolongan,…… Amin. Ya rabbal ‘alamin.
السلام عليكم ورحمة الله وبركا ته و
Bogor, 20 Desember 2011 M
24 Muharam 1433 H
Abu Mufid







GURU NGAJI
Khutbah Jumat
Sejarah Dan Tokoh Islam
YGNI BANYUMAS - PEMUDA PAKARTI PURWOJATI
Rugilah orang yang menyia-nyiakan waktunya, karena waktu tidak mungkin kembali
Rugilah orang-orang yang mengotori jiwanya